Hal tersebut menjadi menarik, kalau kita tinjau langsung ke peristiwa yang terjadi belakangan ini. Tentunya kita sudah sangat mengenal sosok Jokowi yang fenomenal. Maksud penulis di sini bukan berarti ingin mengangkat citra Gubernur DKI ini, melainkan melihat tindak tanduknya dari berbagai sisi. Entah strategi apa yang beliau lakukan, tindaknya langsung mengenai hati masyarakat. Mulai dari berbenah di Kota Solo selama satu periode penuh, turut berpartisipasi dalam Pilkada DKI, hingga saat ini turun langsung ke penanganan banjir yang terjadi di DKI Jakarta. Hal – hal tersebutlah yang menjadi posisi tawar yang memang menyentuh langsung pada hati nurani masyarakat. Menyoal apa yang dilakukan, dan bagaimana tindak tanduknya menjadi citra baik tersendiri baginya.
Maka apa pelajaran yang dapat diambil dari contoh kehidupan sehari – hari tersebut? Ya, perilaku sederhana dan sesuai dengan adab, norma, yang baik, menjadi kebutuhan dalam menjalani proses sosial di masyarakat. Seluruhnya sebenarnya sudah menjadi risalah yang termaktub dan disampaikan oleh Rasulullah SAW. Bahwa berakhlaq mulia, merupakan tujuan pokok dari risalah Islam. Sebagaimana dalam Hadits Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, Aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Maka, sudahkah kita meng-Islam-kan akhlaq kita?
Untuk mengenali akhlaqul karimah – akhlaq yang terpuji, ada baiknya kita memang sudah menyadari, bahwa hal tersebut merupakan sebuah sistem yang berlaku dalam Islam, dan sejatinya menjadi kebutuhan kita. Islam yang syumuliyah mengatur dan menawarkan bagaimana seseorang harus bersikap. Akhlaq mulia merupakan bukti dan buah dari keimanan, yang mana akan menjadi timbangan amal seorang hamba untuk memaknai tiap perkataan dan tindakannya. Tanpa akhlaq yang mulia, ibadah tak ubahnya upacara dan gerakan-gerakan yang tidak memiliki nilai dan faedah sama sekali, seperti yang disampaikan pada Firman Allah SWT,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45)
Hal ini tentunya ditunjukkan untuk kebaikan si pelaku dan lingkungan sekitarnya. Untuk hal itu maka, seyogianya kita sebagai umat yang sudah memahami akan hal tersebut dapat memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
- Bersikap wara’ (hati-hati) terhadap yang syubhat : bahwasanya setiap kita perlu berhati-hati dalam melaksanakan hal – hal yang sudah di haramkan dan segala yang syubhat
- Menahan pandangan (Ghadhul bashar) : menahan pandangan dari segala yang dilarang oleh Allah SWT
- Menjaga lidah
- Malu (haya’)
- Pemaaf dan sabar
- Jujur
- Rendah hati
- Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama Muslim
- Dermawan dan pemurah
- Menjadi teladan yang baik
Wallahua’lam bishawab.

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !