Headlines News :

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Meng-Islam-kan Akhlaq Kita dan Sekitar Kita

Written By Marseno on Kamis, 11 April 2013 | 07.45

dakwatuna.com - Sudah menjadi nilai universalitas tersendiri bagi Umat Manusia, bahwa perilaku yang baiklah yang akan diterima di masyarakat luas. Hal inilah yang menjadi nilai tawar setiap manusia, dalam menjalani interaksi sosial di masyarakat. Jika kita tinjau lebih dalam lagi, sebenarnya perilaku yang baik sudah menjadi core needed setiap insan, untuk mendapatkan hal yang serupa baiknya, entah itu dalam ranah tindakan maupun perkataan.
Hal tersebut menjadi menarik, kalau kita tinjau langsung ke peristiwa yang terjadi belakangan ini. Tentunya kita sudah sangat mengenal sosok Jokowi yang fenomenal. Maksud penulis di sini bukan berarti ingin mengangkat citra Gubernur DKI ini, melainkan melihat tindak tanduknya dari berbagai sisi. Entah strategi apa yang beliau lakukan, tindaknya langsung mengenai hati masyarakat. Mulai dari berbenah di Kota Solo selama satu periode penuh, turut berpartisipasi dalam Pilkada DKI, hingga saat ini turun langsung ke penanganan banjir yang terjadi di DKI Jakarta. Hal – hal tersebutlah yang menjadi posisi tawar yang memang menyentuh langsung pada hati nurani masyarakat. Menyoal apa yang dilakukan, dan bagaimana tindak tanduknya menjadi citra baik tersendiri baginya.
Maka apa pelajaran yang dapat diambil dari contoh kehidupan sehari – hari tersebut? Ya, perilaku sederhana dan sesuai dengan adab, norma, yang baik, menjadi kebutuhan dalam menjalani proses sosial di masyarakat. Seluruhnya sebenarnya sudah menjadi risalah yang termaktub dan disampaikan oleh Rasulullah SAW. Bahwa berakhlaq mulia, merupakan tujuan pokok dari risalah Islam. Sebagaimana dalam Hadits Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, Aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Maka, sudahkah kita meng-Islam-kan akhlaq kita?
Untuk mengenali akhlaqul karimah – akhlaq yang terpuji, ada baiknya kita memang sudah menyadari, bahwa hal tersebut merupakan sebuah sistem yang berlaku dalam Islam, dan sejatinya menjadi kebutuhan kita. Islam yang syumuliyah mengatur dan menawarkan bagaimana seseorang harus bersikap. Akhlaq mulia merupakan bukti dan buah dari keimanan, yang mana akan menjadi timbangan amal seorang hamba untuk memaknai tiap perkataan dan tindakannya. Tanpa akhlaq yang mulia, ibadah tak ubahnya upacara dan gerakan-gerakan yang tidak memiliki nilai dan faedah sama sekali, seperti yang disampaikan pada Firman Allah SWT,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45)
Hal ini tentunya ditunjukkan untuk kebaikan si pelaku dan lingkungan sekitarnya. Untuk hal itu maka, seyogianya kita sebagai umat yang sudah memahami akan hal tersebut dapat memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
  1.  Bersikap wara’ (hati-hati) terhadap yang syubhat : bahwasanya setiap kita perlu berhati-hati dalam melaksanakan hal – hal yang sudah di haramkan dan segala yang syubhat
  2. Menahan pandangan (Ghadhul bashar) : menahan pandangan dari segala yang dilarang oleh Allah SWT
  3. Menjaga lidah
  4. Malu (haya’)
  5. Pemaaf dan sabar
  6. Jujur
  7. Rendah hati
  8. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama Muslim
  9. Dermawan dan pemurah
  10. Menjadi teladan yang baik
Pada akhirnya, setiap tindak tanduk kita perlulah disesuaikan dengan beberapa sikap di atas. Mulai dari paham untuk bersikap dan berhati – hati, menahan pandangan menjadi bekal dalam bergaul dan terjun langsung dalam sosial kemasyarakatan, menjaga perkataan untuk tetap malu, jujur, dan memiliki sikap yang rendah hati, senantiasa menjadi pemaaf akan suatu masalah yang sedang terjadi, serta menjaga lisan untuk tetap menjauhi prasangka, mengomongkan orang di belakang alias ghibah, serta mencari cela sesama Muslim. Kemudian hendaknya kita sebagai seorang Muslim untuk tetap senantiasa dermawan dan pemurah untuk bersedekah dan berjuang dijalan Allah, dan jauh dari kegelimangan harta dunia. Tentunya berbekal perilaku yang baik inilah, setiap dari kita menjadi Da’i atas dirinya sendiri, menjadi teladan yang baik dan menyeru lewat tindak tanduk yang baik dan mengena di lingkungan sekitar. Inilah bentuk Islam yang syumuliyah sebagai akhlaq, yang senantiasa membersamai setiap perkataan dan perbuatan yang dilakukan.
Wallahua’lam bishawab.

Eksplorasi Mandiri

dakwatuna.com - Sampai batas tertentu, mempelajari semesta hingga ke negeri jauh memberi banyak variasi pengalaman dan sudut pandang kehidupan yang mengembangkan pemikiran. Itulah salah satu rahasia perjalanan internasional Muhammad kecil ke Syam dan Yaman yang membuatnya matang di misi kenabian masa mendatang. Begitupun kisah para perantau ilmu yang arungi ribuan mil mencari cahaya pengetahuan untuk terangi redupnya kampung halaman.
Namun ekspedisi ke negeri jauh bukan jalan tunggal, karena revolusi teknologi hari ini merevolusi cara belajar, yaitu eksplorasi mandiri atau belajar otodidak. Yang pertama unggul karena diri dipaksa menghadapi tantangan situasi, geografi, dan problem-problem baru yang bahkan tidak pernah terpikir di daerah asal.
Dalam ekspedisi ke dataran jauh lingkungan eksternal memaksa motivasi agar terus membara, tapi dalam eksplorasi mandiri obsesi internal yang memberi nafas kerja. Jika dalam ekspedisi jauh situasi-situasi baru yang menyuplai bahan pengetahuan, dalam eksplorasi mandiri perencanaan yang menentukan objek pembahasan. Dalam ekspedisi jauh masyarakat baru, budaya baru memaksa Anda berbahasa baru lalu menggali pengetahuan dengan bahasa itu, dalam eksplorasi mandiri kursus bahasa jalan pembuka pemahaman.
Eksplorasi mandiri, adalah jalan para pemuda yang mengalahkan kesempitan kesempatan. Yaitu mereka yang mengembangkan pikiran tanpa menunggu waktu ujian, namun mengkonversi cita-cita menjadi motivasi kerja. Mereka yang tidak mengeluhkan keterbatasan pendidikan formal namun membuat sendiri kurikulum kehidupan. Mereka yang tidak dibimbing dosen kelas namun dipandu pergaulan yang cerdas. Mereka yang tidak hidup di negeri asing tapi memasuki komunitas bahasa asing. Motivasi, guru, metodologi dan bahasa adalah empat perangkat eksplorasi mandiri, atau belajar otodidak.
Jika para ulama menganggap sepertiga Islam terangkum dalam hadits, “innamal a’mâlu bin niyyât” [sunguh, kerja-kerja itu tergantung motifnya], itu bukan hanya karena urusan ikhlas-tidak ikhlas, tapi juga ia menunjukkan makna lain yang sama dalamnya, yaitu skala motivasi. Seperti tingkat motivasi hijrah generasi sahabat yang berlevel, yang akhirnya menjadi ukuran kinerja mereka, begitupun hidup manusia secara umum, mengikuti kaidah sosial tersebut. Karya manusia yang megah selalu berbahan bakar motivasi yang melimpah.
Motivasi pemuda pembelajar yang hanya mengejar kerja di perusahaan minyak tidak sama dengan motivasi pemuda yang bermimpi mengisi kekosongan umat Islam dari pakar minyak bumi atau nuklir atau undang-undang internasional atau pakar manuskrip sejarah negeri. Ingatan akan cita-cita besar itulah yang pada akhirnya terus mengisi motivasinya untuk mengeksplorasi pengetahuan walau secara mandiri dalam waktu yang panjang.
Tapi motivasi menggebu itu membutuhkan arah yang benar. Karena ilmu yang benar dibagun atas fondasi metodologi yang benar. Tidak ada lagi manusia yang mampu menjadi pakar multi disiplin seperti Ibnu Sina, atau Aristoteles. Dan waktu yang ada tidak akan cukup untuk membaca semua buku terbaik yang pernah tercipta. Cita-cita yang jelaslah yang menentukan satuan-satuan objek yang perlu dikuasai. Bahan pengetahuan untuk menjadi negarawan tidak sama dengan pakar tata kota, dan metodologi menjadi pakar nutrisi tidak sama dengan pakar kimia. Namun semuanya bisa dipelajari secara mandiri.
Ia hanya membutuhkan team pengarah. Ia membutuhkan guru-guru yang mengarahkan metodologi paling efisien untuk menguasai bidang tertentu. Guru tidak sama dengan buku, karena mereka telah melewati ranjau kekeliruan dalam perjalanan menuju kepakaran.
Mereka tidak hanya berdiri di ruang kuliah, tapi di tempat kerja, tetangga, di masjid, di pasar, atau bahkan anak-anak muda yang berkesempatan mendapatkan asupan resmi lembaga-lembaga pendidikan formal. Mereka adalah orang-orang yang lebih dulu mempelajari bidang yang kita harapkan dan menyelesaikannya. Karena orang bijak bukan hanya belajar dari kesalahan pribadi, tapi tidak perlu mengulangi kesalahan orang lain.
Dalam eksplorasi mandiri, guru tidak berfungsi sebagai pentransfer detail materi tapi arah umum metodologi. Berupa batasan pembahasan dalam suatu ilmu, tahapan dan referensi utamanya. Karena pada akhirnya, metodologi itu seperti pakaian yang mempuyai ukuran. Para pemuda sendirilah yang menjabarkan metodologi umum itu, lalu membuat rencana pembelajaran tahunan, hingga akhir usianya. Mereka sendirilah, dan bukan guru, yang menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan seperti: dalam potongan usia tertentu, target ilmu apa yang harus selesai? Bagaimana membaginya dalam jadwal bulanan atau mingguan? Buku apa saja yang perlu dibaca? Pakar mana saja yang perlu dimintai konsultasi?
Perangkat lain adalah bahasa asing. Dibalik setiap cerita revolusi pengetahuan, selalu berdiri barisan para pemuda cendekia yang melampaui ketidakberdayaan bahasa negerinya dalam persaingan pengetahuan yang paling mutakhir. Seperti generasi awal ilmuwan-ilmuwan Yunani yang menerjemahkan pengetahuan Mesir kuno dan Babilonia, kemudian muslim Arab zaman Daulah Umawiyyah dan Abbasiyyah yang menerjemahkan pengetahuan Yunani, lalu bangsa Eropa abad pertengahan yang menterjemah pengetahuan dari negeri-negeri muslim khususnya dari Andalusia di Spanyol, Sisilia di Italia dan Istambul di Turki.
Generasi muda yang menguasai bahasa asing itu tidak bertugas mengadopsi budaya asing yang baru, namun menyerapnya sebagai bahan yang diolah menjadi solusi yang paling tepat bagi negerinya. Karena seperti itu siklus sejarah dan alur kebangkitan sebuah umat. Dari murid menjadi guru, dari pengikut pengetahuan menjadi pemimpin peradaban.
Bahasa asing bukan lagi makhluk asing di Indonesia karena lembaga kursus seperti gedung-gedung Dubai di tanah tandus. Ia tumbuh dengan pesat dan menyebar di kota-kota besar. Namun bahasa asing bukan hanya untuk berdendang dan berbincang apalagi prestise. Ia adalah alat untuk membuka gembok-gembok pengetahuan, kacamata untuk membaca literatur-literatur terbaik sepanjang zaman. Bahasa asing, khususnya Arab, Inggris, Perancis, Cina, Jepang, bagi pemuda bukan lagi untuk obrolan harian dalam club bahasa, tapi kebiasaan dalam telaah riset dan kajian-kajian dalam eksplorasi mandiri. Tanpa bahasa asing, walau dengan semangat membaja, guru yang membina, dan metodologi yang rapi tertata, suatu saat akan dirasai, bahwa ruang gerak eksplorasi mandiri terasa sangat sempit.


 
Copyright © 2011. Salamun Haris - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger