dakwatuna.com - Bahwa balasan kebaikan adalah
kebaikan, barangkali mudah untuk mendengarnya, atau mengatakannya. Namun
ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Atau sekadar menyadarinya.
Seorang tamuku malam ini menitip doa untuk anak lelakinya yang sedang menjadi ujian baginya.
”
Mohon doa ya bu, agar dia menjadi anak shalihah, anak yang berbakti dan
mau mendengarkan orang tua. Beberapa minggu ini saya sedang suntuk.
Masak HP saya diambil….bla…bla…”
Ia curhat dengan mata dan hidung merah menahan tangis. Tangis seorang ibu yang luka hatinya.
”
Kalau saya dengar ceramah bu Ida, tidak boleh mengatai anak ini itu, ya
saya tahu, saya sadar. Tapi kenyataannya saya juga suka lupa. Kadang
saya sumpahi dia. Nek kamu seperti itu sama orang tua, kamu itu mau jadi
apa…? Habis gimana bu, dua Hp barunya dibanting hancur. Lalu dia ambil
Hp saya. Kartunya dibuang. Dua hari saya minta, tidak diberikan
bilangnya sudah di buang. Kan saya jadi dongkol…”
Panjang lebar cerita hal ihwal si anak. Setelah tahu sebagian masalahnya, aku sampai pada kesimpulan:
” Ibu, saya bantu dengan doa di tanah suci.
Tapi ibu bantu dengan berubah sikap agar doanya membawa hasil.
Pertama,
ibu tidak boleh membandingkan dia dengan kakaknya. Sesungguhnya ia
punya perasaan yang halus seperti namanya. Jadi dia mudah tersinggung
dan sakit hati jika dibandingkan dengan kakaknya. Ibu jangan lagi memuji
atau menyebut nama kakaknya di depannya.
Kedua, ibu ikhlaskan
semua kebaikan ibu padanya, jangan diundat-undat (disebut-sebut).
Bersihkan hati ibu dari rasa jengkel dan dongkol padanya. Isi dengan
rasa cinta dan sayang. Karena selama ibu dongkol padanya, dia juga
dongkol pada ibu. Jika ibu menyayangi dia, insya Allah akan berbalas
sayang.
Ketiga, jangan menyumpahi dia dengan kata-kata keburukan.
Jika ibu sedang dikasari atau dia bersikap tidak baik pada ibu, sumpahi
dia dengan kebaikan. Katakan saja: apapun yang kamu lakukan, ibu tetap
sayang kamu, ibu doakan kamu jadi anak shalih, sugih, sukses, mikul
duwur mendem jero sama orang tua.
Jika ibu mau lakukan tiga hal ini terus, sebulan lagi insya Allah ibu akan melihat perubahan sikap anak ibu…”
Saya kenal ibu ini, orang yang banyak bicara dan juga suka mengomeli anaknya.
Saya
yakinkan bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan. Jadi ibunya yang harus
memulai dengan membuang semua sikap negatifnya jika mengingini anak
menjadi lebih baik.
Kupikir ajaib juga ya jika berdoa di tanah
suci, di tempat yang mustajab, terus terjadi perubahan yang drastis pada
yang didoakan.
Hmm semoga memang demikian. Bukankah Allah Maha Mengabulkan doa.
Namun upaya manusiawi jika tidak dilakukan….mungkin akan tertunda pengabulannya.
Maka
untuk semua ibu yang minta didoakan untuk kebaikan anaknya, sedangkan
anaknya sedang menjadi ujian baginya, pertama saya akan doakan ibunya
dulu. Agar ibunya menyadari kesalahannya, bertaubat dan memperbaiki
sikap kepada anaknya. Barulah saya doakan untuk kebaikan anaknya. Karena
seringkali titipan doanya adalah agar anaknya diberi kesadaran,
kebaikan, mau jadi anak shalih yang berbakti….tapi ibunya lupa minta
didoakan agar menjadi ibu yang baik….
Hmm saya sendiri, akan
berdoa agar saya diberi petunjuk dan istiqamah untuk menjadi ibu yang
baik. Barulah saya mendoakan anak saya menjadi anak-anak yang baik.
Saya
berdoa agar saya menjadi anak yang berbakti pada ibu saya dan ibu
mertua saya, barulah saya akan memohon anak saya berbakti kepada saya.
Kira-kira begitu ya untuk semua yang titip doa.

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !