Headlines News :

Berita Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Keluarga, Laboratorium Kepemimpinan

Written By Marseno on Rabu, 10 April 2013 | 22.25

dakwatuna.com - Liburan semester kemarin, mengajarkan kami untuk lebih bijak menjadi orang tua. Semua anak-anak berkumpul, dalam waktu yang bersamaan. Di hari-hari biasa, separuh dari anak-anak kami tinggal di asrama dan pesantren, separuh yang kecil ada di rumah bersama kami. Liburan-liburan sebelumnya, kadang tidak dalam waktu yang bersamaan, ada selisih hari masuk dan hari libur. Berkumpulnya seluruh anggota keluarga, sungguh merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang tidak memahami esensi dan nilai penting sebuah keluarga. Ia adalah fitrah, dan panggilan jiwa, nurani yang bersih akan selalu merindukan saat-saat berkumpul, berbahagia, bercanda, bercengkerama, berbagi suka dan duka, saling memberi, saling mengasihi, saling menyayangi, saling memahami, saling menghargai, saling menjaga perasaan, saling melindungi, saling menguatkan, saling membahagiakan. Dan sejuta kebaikan yang harus kita tebarkan kepada seluruh anggota keluarga.
Sebagai bagian dari fitrah, berkeluarga mengajarkan kita berbagai macam makna kehidupan… Berbagai macam tingkah, keinginan dan karakter anak, menjadi miniatur sebuah masyarakat yang kita pimpin. Meski lahir dari rahim yang sama, orang tua yang sama, tidak kita pungkiri, masing-masing anak memiliki karakter, sifat, kecenderungan dan hobi yang berbeda-beda. Banyak sekali aktivitas sehari-hari dalam kehidupan keluarga yang bisa menjadi ajang latihan /mengasah keterampilan menjadi seorang pemimpin.
  1. Penanaman nilai, aturan, dan mengaplikasikan semua nilai tersebut, menjadi laboratoriumnya adalah keluarga. Bagaimana kita sebagai orang tua yang posisinya sebagai pemimpin, mampu mengoptimalkan seluruh SDM yang ada melatih dan membina, mengokohkan dan menyalurkan seluruh potensi yang ada untuk kemajuan dan kesejahteraan. Penyiapan SDM yang tangguh, bermartabat, berprestasi dan berakhlak terpuji, menjadi kunci sukses pembangunan di masyarakat. Penyiapan semua ini, dapat kita uji coba kan di dalam keluarga. Bayangkan, jika seluruh keluarga memiliki konsep yang sama tentang urgensi penyiapan SDM, dan semua keluarga benar-benar menyiapkan SDM dimaksud, maka akan berlimpah SDM yang siap menjadi subjek pencipta kebaikan di tengah masyarakat.
  2. Life skill dan keterampilan lainnya, dapat kita temukan dalam berbagai momentum hidup di tengah keluarga. Saat menyiapkan menu makanan misalnya… Dengan keterbatasan sumber daya yang ada (dana, waktu, tenaga), jika tiap anak memiliki makanan kesukaan dan keinginan yang berbeda-beda, hal ini pasti menuntut kepiawaian seorang ibu sebagai pemimpin urusan rumah tangga untuk mengambil keputusan dengan bijaksana. Misalnya anaknya ada 7 orang. Anak pertama minta menu ikan goreng, anak kedua minta uang tepung, anak ketiga minta soto ayam, anak keempat minta telur balado, anak kelima minta pepes tahu, anak keenam minta ayam semur, anak ke tujuh minta gulai cumi. Seorang ibu akan berpikir keras, bagaimana caranya bisa membahagiakan anak-anaknya dengan semua keterbatasan yang ibu miliki. Ibu yang bijaksana, akan mengajak anak-anaknya yang kira-kira sudah bisa memahami masalah, untuk melakukan musyawarah kecil, kompromi, atau lobi- lobi cantik dengan anak-anaknya.
  3. Uji coba sifat-sifat kepemimpinan bisa juga kita dapatkan pada momentum ini. Saat menentukan ke mana akan pergi rihlah. Setiap anak, sesuai dengan tingkat usia dan kebutuhannya menginginkan tempat/tujuan rihlah yang berbeda satu sama lain. Ada yang ingin ke pantai, ada yang ingin ke puncak pegunungan, ada yang hanya ingin keliling di pinggiran kota, ada yang ingin berenang di kolam renang, ada yang ingin wisata kuliner. Hal-hal semacam ini harus kita sikapi sebagai sebuah latihan untuk bisa menganalisa, memenej serta mengambil keputusan yang tepat, segala keterbatasan dana, waktu, tenaga dan daya dukung yang lain. Melalui proses yang baik, melatih anak untuk mengeluarkan pendapat, melatih untuk berargumentasi dengan alasan kuat, melatih untuk bisa ikhlas dan taat dengan keputusan yang diambil, melatih anak untuk berbagi tugas, dan melatih orang tua untuk bisa bijak dalam mengambil keputusan dan bersikap. Keputusan yang bijaksana dengan mempertimbangkan seluruh aspirasi dari anggota keluarga, akan semakin mengokohkan ikatan tali kebersamaan keluarga, dan mendewasakan sikap.
  4. Pada kesempatan lain, menghadapi berbagai aktivitas yang padat dan tuntutan banyak hal dari anak, akan membuat orang tua harus berlatih mengoptimalkan setiap kesempatan dengan sebaik mungkin, memenej waktu dengan disiplin, memberi contoh bagaimana harus komitmen dengan waktu, dan sekaligus menerapkan konsep-konsep yang selama ini sudah ditanamkan pada diri dan anak. Ketika kita sebagai orang tua tidak bisa menunjukkan contoh komitmen dan disiplin dengan jadwal dan waktu yang telah ditetapkan, sulit untuk mengharapkan anak-anak juga bisa komitmen dan disiplin. Jika saat-saat tertentu, terpaksa kita belum bisa menunaikan apa yang menjadi kesepakatan bersama karena berbagai hal yang terkendala, maka kita harus menyampaikan dan mengkomunikasikan hal ini dengan sebaik mungkin, agar anak tetap husnudzon dan respect terhadap sikap kita, Jangan membiarkan anak dalam teka-teki dan menduga-duga, atau mengecap “salah” kepada kita. Hal ini akan menjadi proses pembelajaran tersendiri, untuk mengerti dengan yang disebut “kompromi”.
  5. Pembagian tugas, memotivasi diri dan orang lain untuk komitmen dengan tugas, dan belajar mengevaluasi, serta memperbaiki kesalahan, adalah latihan-latihan lain untuk menjadi seorang pemimpin, yang ini juga bisa kita pelajari dan kita latih dalam kehidupan berkeluarga. Berbagai macam pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lain bisa kita distribusikan kepada seluruh anggota keluarga, sesuai fitrah dan kapasitasnya. Merapikan tempat tidur, menyapu, mengepel, mencuci baju, memasak, mencuci piring, menyiram tanaman, membersihkan halaman, mencuci motor/mobil, memberi makan binatang piaraan, mengantar adik sekolah, semua ini bisa kita jadikan sebagai latihan yang sangat bermanfaat.
Tentu masih banyak hal-hal lain yang bisa kita gali dalam kehidupan keluarga dalam konteks untuk latihan/laboratorium untuk mengasah sifat-sifat kepemimpinan, bagi kita sebagai orang tua, ataupun bagi anak-anak. Kebahagiaan dan kesuksesan hidup bersama keluarga, adalah modal yang utama untuk sukses hidup dalam lingkup yang lebih luas dan lebih kompleks. Keluarga adalah laboratorium, hasil uji laboratorium menjadi pijakan awal untuk ditransformasikan di skala makro di tengah masyarakat, umat dan bangsa. Sungguh, keluarga adalah proyek besar membangun peradaban. Wallahu a’lam bishawwab. 

Istri: Bunga yang Tetap Mekar

dakwatuna.com - Istri adalah bunga yang harus tetap mekar di taman hati, hanya dengan cinta kasih dia akan selalu mekar bersemi. Wujudnya tak sekadar mengikuti musim berganti, dia dapat bersinergi dengan terik mentari, angin atau badai sekalipun, asalkan ruang hatinya selalu tersirami dan terpelihara, sehingga mahkotanya akan selalu tegak berdiri mampu menopang bening embun pagi yang senantiasa menggelayuti.
Peran perempuan sebagai istri sekaligus ibu senantiasa terkait. Hak dan kewajibannya harus mampu dipahami agar dia dapat menempatkan diri di setiap tempatnya berdiri. Bahkan perannya sebagai kunci peradaban yang unggul mampu diemban utuh. Istilah peradaban ini dapat diartikan sebagai perbaikan pemikiran, tata krama, dan rasa sehingga menghasilkan pribadi dan generasi-generasi unggul di setiap lapisan zaman yang berganti. Bagaimana seorang perempuan mampu menjadi kunci peradaban, apabila dirinya tak dapat menghargai diri sendiri, tak dapat merubah dirinya kearah yang lebih baik atau tak mau belajar memperbaiki diri, hak dan kewajibannya pun enggan dia pelajari. Simaklah hadits Nabi SAW berikut ini: “Rumahmu mempunyai hak atas dirimu, keluargamu mempunyai hak atas dirimu dan kamu mempunyai hak atas dirimu maka berikanlah kepada para pemiliknya haknya masing-masing.” Hak yang keempat tentu adalah hak Allah SWT. Tempatkan keempat sisi tersebut sebaik mungkin sesuai posisinya, demikian pula dengan segala kewajibannya dengan penuh tanggung jawab.
Teringat Ummul Mu’minin, sosok teladan muslimah, dialah istri Rasulullah Muhammad SAW yaitu Khadijah binti Khuwailid pantas menjadi wanita terbaik dunia. Perjuangan, pengorbanan jiwa dan harta dalam menegakkan risalah telah membuktikan peran pentingnya sebagai istri dan ibu yang memegang kunci peradaban yang unggul. Sosoknya hadir sebagai pedagang wanita yang tangguh, sekaligus sosok istri yang taat dan ibu yang penuh kasih sayang. Taman surga bagi Khadijah pun disampaikan Jibril melalui Rasulullah. Harum taman surga telah tercium selama hidupnya. Rasulullah merasakan kenyamanan dan ketenteraman bersama Khadijah.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mampukah seorang istri atau ibu menjalani perannya sebaik mungkin, apalagi sebagai kunci peradaban yang unggul? Peran suami mempunyai bagian tersendiri dalam hal membimbing seorang istri untuk memahami peranannya. Apabila sang suami tak pernah membimbing, memberi nasihat-nasihat, meniupkan ruh keagamaan, bahkan menjadi imam dalam shalat lima waktu pun tidak pernah, apalagi sekadar membangunkan untuk shalat malam. Akan sekuat apakah sang istri dalam memahami peranannya? Seorang istri akan selalu mensyukuri jika suami sudah lengkap shalat lima waktunya dan mengaji sesekali, itu sudah cukup bagi istri, begitu sederhananya. Tapi, sekali lagi pertanyaannya: akan sekuat apakah dia? Kodrat istri membutuhkan lebih banyak bimbingan suami. Seperti yang sering kita dengar “arrijaalu qowamuna alannisa” suami adalah pemimpin istri. Lalu, sudahkah para suami membuktikannya?
Sejak awal, kemantapan hati hadir untuk menjadi sepasang kekasih yang selalu ingin sehati dalam suka dan pedih, mewujudkan cita-cita yang telah terpatri untuk diraih dalam keridhaan ilahi. Berdua saling memberi kekuatan, saling melengkapi dengan segala upaya yang dapat direngkuh bersama. Indah bukan ketika pintu hati, bahkan pintu peradaban terkuak akan selalu hadir bunga yang selalu mekar dan mewangi?

Doa untuk Ibu dan Anak

dakwatuna.com - Bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan, barangkali mudah untuk mendengarnya, atau mengatakannya. Namun ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Atau sekadar menyadarinya.
Seorang tamuku malam ini menitip doa untuk anak lelakinya yang sedang menjadi ujian baginya.
” Mohon doa ya bu, agar dia menjadi anak shalihah, anak yang berbakti dan mau mendengarkan orang tua. Beberapa minggu ini saya sedang suntuk. Masak HP saya diambil….bla…bla…”
Ia curhat dengan mata dan hidung merah menahan tangis. Tangis seorang ibu yang luka hatinya.
” Kalau saya dengar ceramah bu Ida, tidak boleh mengatai anak ini itu, ya saya tahu, saya sadar. Tapi kenyataannya saya juga suka lupa. Kadang saya sumpahi dia. Nek kamu seperti itu sama orang tua, kamu itu mau jadi apa…? Habis gimana bu, dua Hp barunya dibanting hancur. Lalu dia ambil Hp saya. Kartunya dibuang. Dua hari saya minta, tidak diberikan bilangnya sudah di buang. Kan saya jadi dongkol…”
Panjang lebar cerita hal ihwal si anak. Setelah tahu sebagian masalahnya, aku sampai pada kesimpulan:
” Ibu, saya bantu dengan doa di tanah suci.
Tapi ibu bantu dengan berubah sikap agar doanya membawa hasil.
Pertama, ibu tidak boleh membandingkan dia dengan kakaknya. Sesungguhnya ia punya perasaan yang halus seperti namanya. Jadi dia mudah tersinggung dan sakit hati jika dibandingkan dengan kakaknya. Ibu jangan lagi memuji atau menyebut nama kakaknya di depannya.
Kedua, ibu ikhlaskan semua kebaikan ibu padanya, jangan diundat-undat (disebut-sebut). Bersihkan hati ibu dari rasa jengkel dan dongkol padanya. Isi dengan rasa cinta dan sayang. Karena selama ibu dongkol padanya, dia juga dongkol pada ibu. Jika ibu menyayangi dia, insya Allah akan berbalas sayang.
Ketiga, jangan menyumpahi dia dengan kata-kata keburukan. Jika ibu sedang dikasari atau dia bersikap tidak baik pada ibu, sumpahi dia dengan kebaikan. Katakan saja: apapun yang kamu lakukan, ibu tetap sayang kamu, ibu doakan kamu jadi anak shalih, sugih, sukses, mikul duwur mendem jero sama orang tua.
Jika ibu mau lakukan tiga hal ini terus, sebulan lagi insya Allah ibu akan melihat perubahan sikap anak ibu…”
Saya kenal ibu ini, orang yang banyak bicara dan juga suka mengomeli anaknya.
Saya yakinkan bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan. Jadi ibunya yang harus memulai dengan membuang semua sikap negatifnya jika mengingini anak menjadi lebih baik.
Kupikir ajaib juga ya jika berdoa di tanah suci, di tempat yang mustajab, terus terjadi perubahan yang drastis pada yang didoakan.
Hmm semoga memang demikian. Bukankah Allah Maha Mengabulkan doa.
Namun upaya manusiawi jika tidak dilakukan….mungkin akan tertunda pengabulannya.
Maka untuk semua ibu yang minta didoakan untuk kebaikan anaknya, sedangkan anaknya sedang menjadi ujian baginya, pertama saya akan doakan ibunya dulu. Agar ibunya menyadari kesalahannya, bertaubat dan memperbaiki sikap kepada anaknya. Barulah saya doakan untuk kebaikan anaknya. Karena seringkali titipan doanya adalah agar anaknya diberi kesadaran, kebaikan, mau jadi anak shalih yang berbakti….tapi ibunya lupa minta didoakan agar menjadi ibu yang baik….
Hmm saya sendiri, akan berdoa agar saya diberi petunjuk dan istiqamah untuk menjadi ibu yang baik. Barulah saya mendoakan anak saya menjadi anak-anak yang baik.
Saya berdoa agar saya menjadi anak yang berbakti pada ibu saya dan ibu mertua saya, barulah saya akan memohon anak saya berbakti kepada saya.
Kira-kira begitu ya untuk semua yang titip doa.


 
Copyright © 2011. Salamun Haris - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger