Headlines News :

Berita Terbaru

Istri: Bunga yang Tetap Mekar

Written By Marseno on Rabu, 10 April 2013 | 22.22

dakwatuna.com - Istri adalah bunga yang harus tetap mekar di taman hati, hanya dengan cinta kasih dia akan selalu mekar bersemi. Wujudnya tak sekadar mengikuti musim berganti, dia dapat bersinergi dengan terik mentari, angin atau badai sekalipun, asalkan ruang hatinya selalu tersirami dan terpelihara, sehingga mahkotanya akan selalu tegak berdiri mampu menopang bening embun pagi yang senantiasa menggelayuti.
Peran perempuan sebagai istri sekaligus ibu senantiasa terkait. Hak dan kewajibannya harus mampu dipahami agar dia dapat menempatkan diri di setiap tempatnya berdiri. Bahkan perannya sebagai kunci peradaban yang unggul mampu diemban utuh. Istilah peradaban ini dapat diartikan sebagai perbaikan pemikiran, tata krama, dan rasa sehingga menghasilkan pribadi dan generasi-generasi unggul di setiap lapisan zaman yang berganti. Bagaimana seorang perempuan mampu menjadi kunci peradaban, apabila dirinya tak dapat menghargai diri sendiri, tak dapat merubah dirinya kearah yang lebih baik atau tak mau belajar memperbaiki diri, hak dan kewajibannya pun enggan dia pelajari. Simaklah hadits Nabi SAW berikut ini: “Rumahmu mempunyai hak atas dirimu, keluargamu mempunyai hak atas dirimu dan kamu mempunyai hak atas dirimu maka berikanlah kepada para pemiliknya haknya masing-masing.” Hak yang keempat tentu adalah hak Allah SWT. Tempatkan keempat sisi tersebut sebaik mungkin sesuai posisinya, demikian pula dengan segala kewajibannya dengan penuh tanggung jawab.
Teringat Ummul Mu’minin, sosok teladan muslimah, dialah istri Rasulullah Muhammad SAW yaitu Khadijah binti Khuwailid pantas menjadi wanita terbaik dunia. Perjuangan, pengorbanan jiwa dan harta dalam menegakkan risalah telah membuktikan peran pentingnya sebagai istri dan ibu yang memegang kunci peradaban yang unggul. Sosoknya hadir sebagai pedagang wanita yang tangguh, sekaligus sosok istri yang taat dan ibu yang penuh kasih sayang. Taman surga bagi Khadijah pun disampaikan Jibril melalui Rasulullah. Harum taman surga telah tercium selama hidupnya. Rasulullah merasakan kenyamanan dan ketenteraman bersama Khadijah.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mampukah seorang istri atau ibu menjalani perannya sebaik mungkin, apalagi sebagai kunci peradaban yang unggul? Peran suami mempunyai bagian tersendiri dalam hal membimbing seorang istri untuk memahami peranannya. Apabila sang suami tak pernah membimbing, memberi nasihat-nasihat, meniupkan ruh keagamaan, bahkan menjadi imam dalam shalat lima waktu pun tidak pernah, apalagi sekadar membangunkan untuk shalat malam. Akan sekuat apakah sang istri dalam memahami peranannya? Seorang istri akan selalu mensyukuri jika suami sudah lengkap shalat lima waktunya dan mengaji sesekali, itu sudah cukup bagi istri, begitu sederhananya. Tapi, sekali lagi pertanyaannya: akan sekuat apakah dia? Kodrat istri membutuhkan lebih banyak bimbingan suami. Seperti yang sering kita dengar “arrijaalu qowamuna alannisa” suami adalah pemimpin istri. Lalu, sudahkah para suami membuktikannya?
Sejak awal, kemantapan hati hadir untuk menjadi sepasang kekasih yang selalu ingin sehati dalam suka dan pedih, mewujudkan cita-cita yang telah terpatri untuk diraih dalam keridhaan ilahi. Berdua saling memberi kekuatan, saling melengkapi dengan segala upaya yang dapat direngkuh bersama. Indah bukan ketika pintu hati, bahkan pintu peradaban terkuak akan selalu hadir bunga yang selalu mekar dan mewangi?

Doa untuk Ibu dan Anak

dakwatuna.com - Bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan, barangkali mudah untuk mendengarnya, atau mengatakannya. Namun ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Atau sekadar menyadarinya.
Seorang tamuku malam ini menitip doa untuk anak lelakinya yang sedang menjadi ujian baginya.
” Mohon doa ya bu, agar dia menjadi anak shalihah, anak yang berbakti dan mau mendengarkan orang tua. Beberapa minggu ini saya sedang suntuk. Masak HP saya diambil….bla…bla…”
Ia curhat dengan mata dan hidung merah menahan tangis. Tangis seorang ibu yang luka hatinya.
” Kalau saya dengar ceramah bu Ida, tidak boleh mengatai anak ini itu, ya saya tahu, saya sadar. Tapi kenyataannya saya juga suka lupa. Kadang saya sumpahi dia. Nek kamu seperti itu sama orang tua, kamu itu mau jadi apa…? Habis gimana bu, dua Hp barunya dibanting hancur. Lalu dia ambil Hp saya. Kartunya dibuang. Dua hari saya minta, tidak diberikan bilangnya sudah di buang. Kan saya jadi dongkol…”
Panjang lebar cerita hal ihwal si anak. Setelah tahu sebagian masalahnya, aku sampai pada kesimpulan:
” Ibu, saya bantu dengan doa di tanah suci.
Tapi ibu bantu dengan berubah sikap agar doanya membawa hasil.
Pertama, ibu tidak boleh membandingkan dia dengan kakaknya. Sesungguhnya ia punya perasaan yang halus seperti namanya. Jadi dia mudah tersinggung dan sakit hati jika dibandingkan dengan kakaknya. Ibu jangan lagi memuji atau menyebut nama kakaknya di depannya.
Kedua, ibu ikhlaskan semua kebaikan ibu padanya, jangan diundat-undat (disebut-sebut). Bersihkan hati ibu dari rasa jengkel dan dongkol padanya. Isi dengan rasa cinta dan sayang. Karena selama ibu dongkol padanya, dia juga dongkol pada ibu. Jika ibu menyayangi dia, insya Allah akan berbalas sayang.
Ketiga, jangan menyumpahi dia dengan kata-kata keburukan. Jika ibu sedang dikasari atau dia bersikap tidak baik pada ibu, sumpahi dia dengan kebaikan. Katakan saja: apapun yang kamu lakukan, ibu tetap sayang kamu, ibu doakan kamu jadi anak shalih, sugih, sukses, mikul duwur mendem jero sama orang tua.
Jika ibu mau lakukan tiga hal ini terus, sebulan lagi insya Allah ibu akan melihat perubahan sikap anak ibu…”
Saya kenal ibu ini, orang yang banyak bicara dan juga suka mengomeli anaknya.
Saya yakinkan bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan. Jadi ibunya yang harus memulai dengan membuang semua sikap negatifnya jika mengingini anak menjadi lebih baik.
Kupikir ajaib juga ya jika berdoa di tanah suci, di tempat yang mustajab, terus terjadi perubahan yang drastis pada yang didoakan.
Hmm semoga memang demikian. Bukankah Allah Maha Mengabulkan doa.
Namun upaya manusiawi jika tidak dilakukan….mungkin akan tertunda pengabulannya.
Maka untuk semua ibu yang minta didoakan untuk kebaikan anaknya, sedangkan anaknya sedang menjadi ujian baginya, pertama saya akan doakan ibunya dulu. Agar ibunya menyadari kesalahannya, bertaubat dan memperbaiki sikap kepada anaknya. Barulah saya doakan untuk kebaikan anaknya. Karena seringkali titipan doanya adalah agar anaknya diberi kesadaran, kebaikan, mau jadi anak shalih yang berbakti….tapi ibunya lupa minta didoakan agar menjadi ibu yang baik….
Hmm saya sendiri, akan berdoa agar saya diberi petunjuk dan istiqamah untuk menjadi ibu yang baik. Barulah saya mendoakan anak saya menjadi anak-anak yang baik.
Saya berdoa agar saya menjadi anak yang berbakti pada ibu saya dan ibu mertua saya, barulah saya akan memohon anak saya berbakti kepada saya.
Kira-kira begitu ya untuk semua yang titip doa.


 
Copyright © 2011. Salamun Haris - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger